Di tengah gempuran jajanan viral dan camilan kekinian yang berseliweran di media sosial, siapa sangka kalau jajanan jadul—yang dulu kita beli pakai uang jajan seribu perak—ternyata masih bertahan sampai sekarang? Bahkan, beberapa di antaranya mulai naik kelas, dikemas ulang jadi lebih premium, atau justru diburu karena efek nostalgia.
Fenomena ini bukan cuma soal makanan, tapi menyangkut kenangan kolektif generasi yang tumbuh di era 80an sampai awal 2000an. Jajanan jadul bukan hanya soal rasajadoel tapi punya cerita. Setiap bungkus permen atau gigitan kue punya memori yang bikin kita senyum-senyum sendiri. Dan ternyata, inilah yang jadi kekuatan utama kenapa banyak jajanan lawas tetap eksis bahkan ketika tren makanan terus berubah.
Berdasarkan hasil observasi pasar UMKM lokal, termasuk laporan dari Kementerian Koperasi dan UKM, ada kecenderungan konsumen muda (terutama Gen Z) mulai mencari kembali jajanan tradisional, baik untuk dinikmati maupun dijadikan konten. Di TikTok dan Instagram, video tentang “review jajanan jadul” atau “throwback jajan SD” jadi ramai, bahkan beberapa pelaku usaha kecil kembali memproduksi camilan jadul karena permintaan meningkat.
Jajanan Jadul: Antara Kenangan, Keunikan, dan Kearifan Lokal
Salah satu alasan kenapa jajanan jadul bisa bertahan adalah karena mereka punya identitas yang kuat. Nama-namanya unik, tampilannya khas, dan kadang rasanya nggak bisa digantiin sama snack modern mana pun. Sebut aja kue gapit, rambut nenek, gulali, permen rokok, cokelat payung, kue leker, sampai kerupuk gendar. Masing-masing punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.
Menariknya, beberapa dari jajanan ini bahkan mulai di-rebranding oleh pelaku usaha kreatif. Contohnya, kue lidah kucing yang dulunya biasa banget, sekarang dikemas dengan desain estetik, dijual di marketplace dengan harga premium, bahkan jadi oleh-oleh kekinian.
Ada pula permen rokok yang dulu sempat dilarang karena dinilai kurang edukatif, kini kembali hadir dengan nama dan kemasan yang lebih positif. Ini membuktikan bahwa nilai nostalgia bisa dimodifikasi jadi nilai jual, asal pelaku usaha paham cara mengemasnya.
Faktor Sosial dan Ekonomi yang Mendukung Eksistensinya
Dari sisi ekonomi, produksi jajanan jadul cenderung tidak membutuhkan mesin rumit atau bahan baku mahal. Banyak di antaranya masih dibuat secara manual dengan resep warisan. Karena itu, usaha jajanan jadul cocok banget untuk skala rumah tangga atau UMKM kecil.
Menurut laporan sektor industri makanan ringan lokal pada tahun 2024, segmen camilan tradisional mengalami peningkatan permintaan sebesar 12% dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh tren nostalgia dan peningkatan minat konsumen terhadap produk berbahan alami tanpa pengawet.
Selain itu, distribusi jajanan jadul kini makin luas. Dulu mungkin kita cuma bisa nemuin di warung depan sekolah atau pasar kaget, sekarang jajanan jadul juga hadir di supermarket, minimarket, hingga e-commerce. Bahkan ada beberapa toko oleh-oleh modern yang sengaja menyisipkan jajanan tempo dulu untuk menarik pasar lintas generasi.
Peran Media Sosial dalam Menyulut “Kebangkitan” Jajanan Jadul
Nggak bisa dipungkiri, media sosial memainkan peran besar dalam memperkenalkan ulang jajanan jadul ke generasi muda. Lewat video-video ala review jajan zaman SD atau konten ASMR jajan pasar, rasa penasaran pun tumbuh. Banyak anak muda yang mungkin belum pernah merasakan ice cream potong, gulali sabut, atau cokelat payung, akhirnya ikut mencoba.
Lebih dari itu, media sosial juga mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen secara langsung. UMKM yang menjual kue balok, kembang goyang, atau keripik kaca bisa langsung dipromosikan lewat TikTok Shop atau live shopping, tanpa harus buka toko fisik.
Dari sisi strategi, banyak penjual yang menyatukan konsep nostalgia dan gimmick modern. Contohnya, bungkus permen jaman dulu dikasih QR code yang bisa mengarahkan ke cerita sejarahnya. Ini bukan cuma jualan makanan, tapi jualan experience.
Jajanan Jadul Bukan Sekadar Camilan, Tapi Warisan Budaya
Kita kadang lupa, di balik kesederhanaannya, jajanan jadul sebenarnya menyimpan nilai budaya dan identitas lokal yang kuat. Di beberapa daerah, jajanan seperti clorot, getuk, apem, klepon, atau lemper bukan sekadar jajanan pasar, tapi juga bagian dari ritual dan tradisi masyarakat.
Contoh sederhana, kue cucur di Betawi sering muncul dalam acara hajatan. Di Jawa, jadah tempe jadi simbol kebersamaan. Bahkan di Bali, beberapa jenis kue tradisional dijadikan bagian dari sesajen. Artinya, eksistensi jajanan jadul juga menopang keberlanjutan budaya daerah.
Berikut beberapa contoh jajanan jadul yang masih eksis hingga sekarang dan banyak dicari karena rasa, kenangan, dan keunikannya:
Permen Jadul
-
Permen rokok – Dulu sempat kontroversial, tapi tetap ikonik dengan bentuk dan bungkusnya yang khas.
-
Permen susu – Bentuk tablet kecil, rasa manis lembut, biasanya dalam kemasan plastik bening.
-
Permen karet Yosan – Terkenal dengan “hadiah” huruf Y-O-S-A-N di dalamnya.
Kerupuk dan Snack Kering
-
Mie lidi – Gurih dan pedas, banyak dijual dalam toples atau plastik panjang.
-
Kerupuk gendar – Dari nasi, digoreng sampai mengembang, sering jadi teman makan atau camilan sore.
-
Kerupuk kulit (jangek) – Dari kulit sapi, renyah dan gurih.
Kue Tradisional
-
Kue leker – Tipis, renyah, biasanya diisi pisang dan cokelat.
-
Kue cubit – Dulu dijual di depan sekolah, sekarang jadi jajanan kafe dengan topping kekinian.
-
Kembang goyang – Bentuk bunga, renyah, biasa disajikan saat Lebaran atau hajatan.
Camilan Basah dan Pasar
-
Cilok dan cireng – Masih banyak dijajakan dengan bumbu kacang, sekarang banyak versi frozen-nya juga.
-
Getuk – Terbuat dari singkong, warna-warni, kadang ditabur kelapa parut.
-
Kue apem – Simbol syukuran di beberapa daerah, rasanya manis dan empuk.
Cokelat Jadul
-
Cokelat payung – Bungkusnya berbentuk payung kecil, sering dijual eceran.
-
Cokelat koin – Bentuknya bulat seperti uang logam, dibungkus emas.
-
Choyo-choyo – Cokelat dalam kemasan mini, dimakan dengan sendok kecil.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pun mulai memasukkan kuliner tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter dan literasi budaya. Ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha jajanan jadul untuk memperkuat posisinya bukan hanya di pasar kuliner, tapi juga dalam sektor edukasi budaya.
Tantangan Jajanan Jadul di Era Modern
Walau terlihat cerah, perjalanan jajanan jadul juga punya tantangan tersendiri. Pertama, adalah masalah kemasan dan higienitas. Banyak konsumen, terutama anak muda perkotaan, yang cenderung skeptis terhadap makanan yang dikemas secara tradisional. Jadi, aspek visual dan keamanan pangan harus ditingkatkan tanpa mengorbankan keaslian.
Kedua, tantangan keberlanjutan resep. Banyak produsen jajanan jadul masih bergantung pada resep turun-temurun yang tidak terdokumentasi dengan baik. Kalau generasi berikutnya nggak mau meneruskan, bisa saja jajanan itu punah.
Ketiga, soal adaptasi rasa. Sebagian jajanan jadul memang punya rasa khas yang mungkin tidak cocok untuk lidah milenial atau Gen Z. Di sinilah pentingnya inovasi—misalnya, membuat versi rendah gula, tanpa MSG, atau memakai bahan organik untuk menarik pasar baru.
Apa Peluangnya ke Depan?
Melihat tren yang berkembang, bisa dibilang bahwa jajanan jadul bukan sekadar bertahan—tapi punya potensi besar untuk berkembang. Bahkan, bisa menjadi ikon lokal yang bersaing dengan camilan modern. Beberapa pelaku bisnis mulai menggabungkan jajanan jadul dengan konsep café tempo dulu, lengkap dengan interior vintage dan packaging estetik.
Peluang juga terbuka di ranah ekspor. Karena nilai budaya yang tinggi, jajanan jadul bisa dikurasi jadi souvenir khas Indonesia untuk wisatawan asing atau dikemas sebagai produk ekspor makanan ringan. Contoh nyatanya adalah keripik tempe atau dodol garut yang sudah sampai ke pasar Jepang dan Eropa.
Saatnya Kita Nggak Cuma Nostalgia, Tapi Juga Dukung
Kalau kamu pernah beli permen susu bentuk tablet atau makan mie lidi sambil duduk di emperan sekolah dasar, berarti kamu bagian dari generasi yang tahu betul nikmatnya jajanan jadul. Sekarang saatnya nostalgia itu ditransformasi jadi bentuk dukungan nyata.
Dukung pelaku usaha lokal yang masih memproduksi jajanan ini. Bantu mereka bertahan dan berkembang. Dan kalau kamu punya ide kreatif, siapa tahu kamu bisa jadi pelaku selanjutnya yang bikin jajanan jadul naik kelas?
Buka Mata, Buka Dompet, Buka Rasa: Dukung Jajanan Jadul Hari Ini!
Jajanan jadul bukan cuma pengobat rindu masa kecil. Ia adalah bagian dari identitas kuliner dan budaya Indonesia. Kalau kamu merasa punya ikatan dengan mereka, yuk bantu terus hidupkan dengan cara yang paling sederhana: beli, nikmati, dan bagikan ceritanya.
Kita semua punya peran untuk memastikan jajanan-jajanan penuh kenangan itu nggak cuma tinggal cerita, tapi tetap eksis dan relevan di masa depan.
Mau nostalgia rasa-rasa kecil tapi tetap relevan? Yuk, jelajahi kembali warung-warung kecil di sekitar, atau buka aplikasi dan cari jajanan jadul favoritmu. Siapa tahu, dari camilan sederhana itu, kamu bisa temukan inspirasi besar.





