Buat banyak mahasiswa rantau, ada satu hal yang selalu sukses bikin hati meleleh meski jarak memisahkan: masakan nenek di kampung. Bukan sekadar soal rasa, tapi tentang kenangan, kehangatan, dan cinta yang dibungkus dalam sepiring nasi hangat dan lauk sederhana. Ketika tugas kuliah menumpuk dan hari-hari terasa berat, ingatan tentang aroma dapur nenek seolah jadi pelipur lara yang paling manjur.
Momen makan di rumah nenek memang punya sihirnya sendiri. Suara sendok beradu dengan piring, aroma sambal goreng yang menyeruak dari dapurnenek atau sekadar obrolan ringan tentang hari ini sambil menikmati tumis kangkung buatan nenek — semua itu membekas di hati. Nenek bukan sekadar memasak untuk mengenyangkan; beliau meracik makanan dengan perasaan yang membuat setiap suapannya terasa seperti pelukan hangat.
Di tengah kesibukan kota besar, masakan nenek jadi simbol ‘rumah’ yang kadang sulit ditemukan. Mungkin di kota kita bisa beli berbagai makanan kekinian, dari burger sampai ramen otentik, tapi rasa sederhana masakan nenek? Tak tergantikan. Apalagi, penelitian terbaru dari International Journal of Gastronomy and Food Science 2024 menyebutkan bahwa kenangan terhadap makanan masa kecil memiliki dampak psikologis positif, termasuk mengurangi stres dan rasa rindu.
Kenapa Masakan Nenek di Kampung Begitu Membekas?
Ada alasan kuat kenapa masakan nenek di kampung terasa begitu dalam di hati. Salah satunya adalah konsep “emotional cooking” yang banyak dibahas dalam dunia kuliner saat ini. Emotional cooking merujuk pada proses memasak yang tidak sekadar memenuhi resep, tetapi melibatkan perasaan, perhatian, dan kenangan. Ketika nenek memasak, yang dia tuangkan bukan hanya bumbu, tapi juga pengalaman hidup, kasih sayang, dan doa.
Uniknya, banyak nenek di kampung tidak menggunakan takaran pasti. Semua “di kira-kira” saja, berdasarkan insting yang terbentuk dari pengalaman puluhan tahun. Garam secukupnya, gula sedikit, cabai sesuai selera — semua dilakukan dengan hati, bukan angka. Hasilnya? Setiap masakan punya rasa khas yang sulit ditiru, bahkan dengan resep yang sama.
Sebuah survei yang dilakukan oleh GoodFood Indonesia pada akhir 2024 menunjukkan bahwa 73% mahasiswa rantau lebih merindukan masakan rumah — terutama buatan nenek — dibandingkan dengan makanan restoran populer. Ini memperkuat fakta bahwa makanan tidak sekadar soal lidah, tapi juga soal rasa aman, nostalgia, dan koneksi emosional.
Masakan Favorit yang Selalu Dirindukan
Setiap daerah pasti punya menu khas yang jadi ikon di dapur nenek. Anak rantau dari Jawa mungkin akan menyebut gudeg nangka, sayur lodeh, atau tempe bacem. Dari Sumatera, mungkin rendang rumahan atau gulai ikan asam pedas jadi menu sakti. Sementara yang berasal dari Sulawesi mungkin langsung terbayang aroma pallumara atau coto makassar buatan nenek.
Yang menarik, masakan nenek biasanya penuh dengan kearifan lokal. Misalnya, penggunaan bahan alami dari kebun sendiri, bumbu-bumbu segar tanpa bahan pengawet, dan teknik masak tradisional seperti memasak dengan tungku kayu. Ini semua memberi lapisan rasa alami yang jarang ditemukan di makanan instan zaman sekarang.
Bahkan, menurut laporan FAO tahun 2024, metode memasak tradisional seperti ini mendukung ketahanan pangan berkelanjutan karena mengutamakan bahan lokal dan teknik yang ramah lingkungan. Artinya, di balik semangkuk sayur asem buatan nenek, ada kontribusi kecil untuk menjaga bumi.
Rindu yang Tak Pernah Usang
Waktu berjalan, teknologi berkembang, makanan cepat saji menjamur, tapi rasa rindu terhadap masakan nenek tetap bertahan. Setiap kali kembali ke kampung, hal pertama yang dirindukan adalah duduk di meja makan sederhana, menyantap sayur labu, sambal terasi, dan ikan goreng yang digoreng sampai kering — semua buatan tangan yang penuh cinta.
Kadang, saat pulang, nenek sudah menyiapkan semuanya. Walaupun kita bilang, “Nek, jangan repot-repot ya,” tetap saja beliau sibuk di dapur dari pagi. Bagi nenek, memasak untuk cucunya bukan beban, melainkan kebahagiaan. Ini sesuai dengan temuan psikologi keluarga yang menyatakan bahwa memberi makanan kepada keluarga adalah salah satu bentuk ekspresi kasih sayang paling kuat dalam budaya Asia.
Rasa itu, cinta itu, membungkus setiap suap nasi hangat yang kita nikmati. Tak heran, banyak mahasiswa rantau yang saat pulang membawa pulang sambal buatan nenek dalam toples, atau bahkan lauk kering buat bekal beberapa minggu ke depan. Itu bukan sekadar bekal makanan — itu bekal rindu, bekal cinta.
Menjaga Rasa, Menjaga Kenangan
Rindu pada masakan nenek tidak hanya membuat kita ingin pulang, tapi juga membuat kita ingin belajar. Ada gerakan kecil di kalangan anak muda rantau yang mulai mencoba belajar memasak menu-menu nenek. Bukan semata-mata karena lapar, tapi karena ingin menghidupkan kembali kenangan lewat aroma dan rasa.
Memang, rasanya belum tentu sama. Ada bumbu rahasia yang tak terkatakan: sentuhan tangan nenek, kesabaran, dan ketulusan. Tapi setiap usaha kecil di dapur apartemen sempit itu tetap membawa sepotong kampung halaman lebih dekat ke hati.
Untuk kamu yang sekarang lagi jauh dari kampung, mungkin bisa mulai mencoba satu resep sederhana buatan nenek. Mulai dari sayur asem, sambal goreng kentang, atau sekadar tumis kangkung. Bukan untuk sekadar makan, tapi untuk memelihara kenangan dan membungkus diri dalam hangatnya cinta dari jauh.
Karena sejauh apa pun kita pergi, rasa masakan nenek di kampung akan selalu jadi alasan untuk pulang. Kalau kamu lagi kangen berat sama masakan nenek, kenapa nggak coba telepon nenek hari ini dan tanya resep sederhana favoritmu? Siapa tahu, dari satu telepon kecil, kamu bukan hanya dapat resep, tapi juga semangat baru untuk menghadapi hari-hari di perantauan. Yuk, bawa rasa rumah ke dapurmu sendiri!





